Hay pria yang aku sayangi.. jangan tertawa melihat surat ini, aku
hanya ingin menyampaikan apa yang sebenarnya ada di dalam hati ini, mungkin
bukanlah segala-galanya , paling tidak meringankan beban karena sudah
tersampaikan. Walau hanya dengan tulisan sederhana ini.
Sayang.. Perasaan yang kupunya memang tak
pernah padam, dari hari pertama kita menjalin kedekatan hingga sekarang kita
semakin dekat. Namun banyak sekali yang mesti tersampaikan, walau setiap
pertemuan mulutku berbusa tapi tidak menghabiskan kata demi kata yang ada
didalam hati ini.
Hari-hari yang kita lalui selalu diisi tawa
yang selalu bisa membuatku berbunga. Dan Kamu sayang .. selalu ada dan siap
menjadikan lontaranku kian sempurna. Berdua denganmu membuatku mampu menikmati
apapun yang ditawarkan oleh dunia. Kata cinta juga tak lagi cukup untuk
menggambarkan rasa menggebu serta kebun bunga yang tersemai rapi di
hatiku. Aku merasa nyaman ada didekatmu, aku merasa dianggap keberadaannya
dengan caramu mendengarkanku, dengan caramu memandangku, dan caramu
memperlakukanku.
Kita memang punya banyak cerita masing-masing,
aku punya cerita dengan masa laluku, begitupun dengan kamu, memiliki masa lalu.
Cerita kita berbeda, dan sangat berbeda. Jika dibandingkan mungkin aku lebih
terluka dari kamu, jika sudi, mungkin bisa ku belahkan hatiku, menilik bekas
luka yang dulu pernah ada. Sayang.. aku memang tahu, sedikit cerita tentang
masa lalu kamu, dari awal kita pedekate, sepertinya tidak ada masalah dengan
hati ini, mencoba biasa, dan menjadi terbiasa.
Tapi sepanjang waktu kita bersama, menjalin
hubungan lebih dekat dengan saling mengenal satu sama lainnya. Aku kadang
egois, dan sangat egois mungkin. Berharap menjadi satu-satunya di hatimu, dan
menjadi satu-satunya di dalam pikiranmu. Ketika hari dimana kau akui, jika kamu
memilihku, aku bimbang. Bukan karena aku tidak mencintai atau menyayangimu,
tapi aku takut, aku khawatir. Aku takut jika kehadiranmu hanya akan menyisakan
kenangan buruk, dan aku tidak ingin terluka kedua kalinya, aku pun takut jika
nanti kamu masih saja berhubungan dengan masa lalu kamu ketika denganku.
Aku tahu, masa lalu kita bukanlah musuh bagi
kehidupan kita. Tapi jujur dari dalam lubuk hati ini merasakan kepedihan yang
sangat mendalam, jika tahu kamu masih sering melihat keadaannya, walau hanya
dengan membaca status facebooknya,
nge-like statusnya, ngeliat fotonya (walau ngga sengaja), mungkin inbok, (aku
mungkin tidak tahu) , tanya kabar dengar teman dekatnya, atau apalah-apalah..
itu bagiku sangat menyakitkan. Sudah lama masalah ini aku pendam mencoba
mendewasakan diri, tapi entahlah… air mata setiap doaku menjadi saksi jika
ternyata aku belum mampu menerima keadaan semacam itu.
Karena, sekarang aku benar-benar tidak ada
kabar sama sekali, menghapus dari status sosmed, akun-akunnya aku blokir dari
hadapanku, foto-fotonya aku hapus, tidak berhubungan lagi sama keluarganya,
tidak berhubungan dengan kawan-kawannya (membahas masalah dia) semua untuk
menetralkan. Dan untuk kita.. yah..untuk kita. Bukan untuk aku. Aku hanya ingin
menjalani hidup dengan mu tanpa harus menengok kebelakang karena belum waktunya
menengok, aku tahu ada saatnya menengok masa lalu, yah ketika kita harus
bersyukur.ada saatnya nanti bisa berhubungan atas nama umat ... Dan jika aku
begitu, aku sangat harap kamu bisa
melakukan hal yang sama tujuannya, walau dengan cara yang berbeda, tapi aku
harap caramu tidak berlawanan denganku, bukan untuk memecahkan hubungan
silaturahmi atau apalah-apalah. Tapi pasti kamu ngerti kan?? Atau aku masih
harus bicara agar kamu ngerti.?? .. sayaaang..
Aku tahu, aku bukanlah manusia pertama
yang mengetuk dan masuk untuk kemudian menjelajah semua ruangan yang ada di
hatimu. Dulu, aku sempat kebingungan karena tak menemukan kunci untuk
membuka gerbangnya.. dan terkadang aku berterimakasih kepada masa lalumu,
karena mereka, membuatmu lebih dewasa. Dan mungkin karena merekalah,
mengantarkan kita untuk bertemu atas izin Tuhan.
Sekarang mungkin bukan waktunya lagi untuk
bermain-main, hati ini sepenuhnya ku titipkan pada Tuhan, disana sudah ada
namamu yang aku yakini menjadi pendamping hidupku kelak. Aku ingin setiap hela
nafas ini berlantun doa menyebut namamu.
Sayang… maafkan aku selama ini egois, maunya
menang sendiri, dan satu yang paling buat kamu benci.. yaah.. ngambek…ahh,…
ketika aku telusuri, akar masalahnya selalu dari masa lalu. Haruskan aku
sedikit membenturkan kepala untuk tidak lagi mengingat masa lalu kamu ataupun
aku sendiri?
Terkadang aku sampai berpikir seperti itu..
maafkan aku sayang.. tidak ada niat untuk membuatmu ragu dengan keberadaanku di
sisimu. Tidak pernah,.. justru aku selalu membekali diri untuk lebih baik,
untuk lebih layak jika bersanding denganmu. Karena kau tahu, kamu pria spesial
yang Tuhan hadirkan dengan wanita diluar kebiasaan seperti aku ini.
Aku sering kali perang dengan diriku sendiri,
seriiing banget.. entah apa sajalah yang ada dipikiranku. Aku takuuuutt
kehilanganmu, sungguh… sebelum aku kenal denganmu, aku berdoa, ditemukan dengan
pria yang terakhir untukku.. dan Tuhan menjawab, dengan hadirnya kamu disisiku,
itu pula yang memperkuat keyakinanku, untuk selalu mempertahankan hubungan ini.
Sayang, kamu juga perlu tahu bahwa di tiap
nafas yang kuhela, aku berusaha. Aku berjuang sekuat daya untuk membuatmu
bahagia. Memantaskan diriku sendiri untuk layak bersanding di sisimu.
Mengurangi segala tabiat buruk yang mampu menyakitimu. Aku berjerih payah untuk
mengulas senyum bangga di parasmu.
Tidakkah baik berdiam diri ,,, sungguh
menyakitkan.. maafkan aku..:(
Lalu..Berlebihankah
jika aku ingin menjadi pendampingmu di masa depan?
#bersambung..
Pekalongan,
20 Mei 2015
Kekasihmu..:)
0 komentar:
Post a Comment