Lagi-lagi surat ini muncul begitu
saja, entah apa gerangan yang membuatku ingin menuliskan surat ini untukmu,
wahai kekasihku. Yang pasti kapanpun, dimanapun kau membaca suratku ini, aku
harap janganlag tertawa dengan sifat ababil yang aku miliki. Jangan berpikir
dengan surat kau menilaiku masih saja seperti ababil-ababil jaman dahulu. Yang pasti
sebuah kebanggaan ku bisa menuliskan surat ini untukmu.
Kekasihku, kau yang mampu
meluluhkan semua keluarga besarku dengan pribadimu yang baik, dengan sikapmu yang
sopan dan rileks membuat keluarga besarku merasa dicuri hatinya oleh kamu. Kau yang
mau menemui keluarga besarku dengan segenap keyakinan dan ketegasan.
Sayang, terimakasih perjalanan cinta kita yang
barulah beberapa bulan telah melukiskan kenangan indah yang perlu untuk
dikenang, perjalanan yang tidak begitu mulus. Banyak badai menghadang kita
dapat melaluinya. Dan mohon maaf, terkadang rasa cemburu yang aku miliki masih
sangatlah kuat, hingga terkadang membuatmu terluka, membuatmu merasa tidak
berguna, membuatmu merasa belum mampu untuk bisa membuatku tenang ada
dipelukmu. Terkadang aku merasa bersalah juga, setiap pertengkaran yang ada
diantara kita, pasti itu dimulai dari diri aku sendiri, dan sebabnya adalah
masa lalu.
Aah.. lagi-lagi masa lalu, aku
terlalu cemburu dengan masa lalumu, dengan cerita masa lalumu itu sepertinya
aku merasa bukanlah apa-apa. Setiap kali ku mencoba menguatkan diri untuk tetap
percaya akan kehadiranmu hanyalah untukku, terkadang itu terkalahkan dengan sikap ego besarku. Maafkan
aku..
Sayang, terimakasih, kau tidak
pernah bersikap dingin kepadaku ketika kita ada masalah, atau ketika aku merasa
cemburu. Kamu selalu memberikan argumen penguat untukku bisa percaya
sepenuhnya, jika masa lalumu tidak akan kembali. Dan cukup menjadi cerita yang
tak perlu diperbincangkan.
Kau juga tidak pernah memanggilku
dengan sebutan kasar, tidak pernah sama sekali, kau memang sangat berbeda. Dan inilah
yang membuatku yakin akan dirimu untuk bisa bersanding denganmu. Kau mampu
menjadi penenang hatiku, ketika perselisihan antara aku dan egoku muncul dengan
sendirinya, kau telah banyak membuat ku berubah, menjadikanku wanita dewasa. Sehingga
aku semakin bersemangat menjadikanku wanita yang berkualitas, yang layak jika
disandingkan dengan mu sekarang dan selamanya sampai akhir hayat, dan setelah
kematian.
Lantunan doa-doa terindahku
setiap saat, untuk memintamu menjadi pendamping hidupku. Menjadi suami ku,
menjadi ayah dari anak-anakku, menjadi kakak bagi adikku, menjadi anak bagi
ayah dan ibuku. Semoga Tuhan selalu memberikan kehangatan kepada hubungan kita.
Senandung lagu yang senantiasa ku
nyanyikan untukmu, sebagai ekspresi sederhana akan bahagianya aku bisa ada
disampingmu.
Terimakasih untuk pengorbananmu
menyeimbangkan pribadimu dan pribadiku yang begitu keras kepala, kau mampu
meluluhkan. Kau yang dewasa sungguh memberikan banyak pandangan di diri ini
untuk bisa menyeimbangkan juga kedewasaan itu. terimakasih sayang…
Semoga cinta kita abadi untuk
selamanya..
Salam sayang rinduku untukmu
kekasihku..
Kekasihmu..

0 komentar:
Post a Comment