19 July, 2015

Aku Takut Jika Kita Tak di Takdirkan Bersama

Wahai pria yang aku sayangi, segenap jiwa ku berdoa, memohon pintaku untuk selalu berada di sampingmu, selamanya bahkan setelah kematian. Jangan kembali tersenyum sebelum lengkap membaca surat cinta ku kali ini. Entah kau membacanya, atau tidak untuk jangka waktu dekat ini, tapi aku yakin suatu saat kamu akan tahu, dan membaca surat ku ini.

Tetesan air mata tak lagi bisa ku bendung, jari-jemariku menyaksikan betapapun hati, pikiran, dan perasaan ini termakna dalam tetesan-tetesan air mata yang mengalir disetiap kata demi kata yang tercurahkan disini. 

Dalam melodi indah yang ku dengarkan malam ini, sungguh semakin merasa sesak dada ini, namun ku menikmatinya. 

Sayang.. perjalanan cinta yang kita lalui tidak begitu mudah, dari awal kita berjumpa, rasa nyaman sudah mulai ada. Dan itu kita ciptakan dengan sendirinya, tanpa kita sadari. Berjalannya waktu, kita semakin dekat, sampai akhirnya jadian, makin kenal luar dalam, makanan minuman favorit, hobi, dan kebiasaan-kebiasaan sehari-harinya. Sangat memerlukan  banyak waktu, tapi ku rasa kita cukup cepat untuk saling mengenal, bukankah kau merasakan hal yang sama denganku?

Sayang.. jalinan ini sangat ku harapkan sampai dengan tahap yang lebih serius, yah.. pernikahan.. ingin sekali ku bina rumah tangga denganmu, menjadi istri dan ibu dari anak-anakmu, ingin sekali sayang. Sesekali tertintas bayang-bayang dirimu di sampingku saat ku tertidur, terbayang olehmu mencium keningku saat ku terbangun dalam tidurku, terbayang pamit salam mu ketika kau beranjak pergi, dan bayang-bayang indah yang selalu menemani hariku. Terlebih ketika kau berada jauh dariku, jarak yang memisahkan.. namun ku syukuri, masih banyak cara lain untuk sedikit mengobati rasa rindu yang semakin menggebu sepanjang waktu jauh darimu.

Sayang, pengorbanan waktu, tenaga, materi bahkan pengorbanan lainnya telah kita lakukan demi saling menyamankan bukan? tidakkah pernah sedikitpun diri ku menyiksa untuk mencoba menjauh, atau bahkan berpaling darimu, tidak akan. Pemikiranku tak lagi main-main untuk seriusi hubungan kita ini, jika perlu saat ini aku siap dipersunting olehmu, aku siap.

Bukan masalah gegabah dan memaksakan kehendak, bukan itu!.. tapi aku berpikir, banyak halangan yang siap mengahadang kita di depan sana, akan lebih mudah kita laluinya jika bersama.,, sekarang kita bersama, tapi belum seutuhnya, belum sama sekali, bahkan banyak batasan untuk selalu bersama, betulkah itu?

ingin sekali aku bisa melaluinya bersamamu, entah itu yang menimpaku, atau menimpamu..aku sangat butuh kamu sayang.. terlebih setiap kali ku berikan perhatian untuk kali ini tidaklah berbentuk ibadah pada Tuhan, tapi ketika kita sudah sah semua hal baik yang ku lakukan untukmu maupun sebaliknya akan bermakna, yah dinilai ibadah, sungguh besar kuasa Tuhan kita kan sayang?

Sempat terlintas, bayang-bayang tak diinginkan, bayangan kita dijauhkan, kita ditakdirkan untuk berpisah, bagaimana rasanya? apalagi ketika perasaan cinta dan sayang sudah tumbuh sebesar-besarnya, sudah setulus-tulusnya... apa yang di rasa? banyak waktu dilalui bersamamu, banyak sekali yang bisa ku rasakan darimu, dan begitu sebaliknya... bukankah sakit jika harus di pikirkan?

kau mungkin akan memelukku, membelai lembut rambutku, mencium mesra keningku, dan mengatakan "jangan berpikir seperti itu".. Kau akan selalu berpikir positif terhadap hubungan kita, selama masih ada usaha dan doa, untuk mencapai satu tujuan bersama, yah satu tujuan. Itu yang biasa kamu katakan, kamu juga mengatakan jika kita harus selalu berprasangka baik kepada Tuhan, jika apapun yang terjadi itulah yang terbaik untuk kita. Jangan takut untuk selalu berusaha , memohon pinta untuk disatukan selamanya..

Sungguh ,jawabanmu membuat hatiku lebih nyaman, mencoba berpikir tenang, berprasangka baik, dan menyudahi kesedihan yang tak ada untungnya..justru merugikan kamu bilang begitu.

Apapun sayang... yang akan terjadi didepan sana, aku ingin kita masih bisa menyatukan.. kamu bisa menerima aku apa adanya. Aku minta maaf sebesar-besarnya jika aku tidak bisa memberikan sesempurna mungkin yang kamu harapkan untuk jadi kekasihmu, maaf kan aku sayang..

Maafkan aku sayang, jika setiap saat banyak hal yang aku perbuat tidak sesuai kehendakmu, maafkan aku.. Semua ada masanya sayang, semoga masa kita ini, bisa kita lalui berdua, saling melengkapi, saling menerima.. Apapun nanti, bagaimana jadinya, aku akan tetap berusaha mempertahankan hubungan kita.. Aku sangat berharap kau pun sama..

#kekasihmu...
Read More

09 July, 2015

Tak Ingin Menuntutmu Lebih Kasih

Selamat malam, langit bagai belahan yang tak terkira keindahannya, terlihat nampak bintang-bintang bersinar terang, menghiasi nya. Bulan semakin melengkapi keindahan malam ini. Terbesit banyak kata yang ada di pikiran ku saat ini, entahlah ..

Kekasihku,  bagaimana dengan dunia ini yang semakin menggila? apakah ikut gila? ah jangan sampai sayang. Semoga kemaknaan hidup akan senantiasa mengindahkan diri yang semakin terpana akan gemerlapnya dunia.

hay pria yang ku sayangi..surat ini muncul lagi-lagi, karena mungkin tidak tahu harus bagaimana untuk menyampaikannya, sedangkan banyak hal yang  tidak ingin ku biarkan lemah begitu saja, membiarkan mu lenyap dari duniaku, membiarkanmu buruk dihadapan duniaku, terlebih membiarkan cinta kita hilang tak terkendali. Maafkan aku jika surat ini sungguh menyayat hatimu, membabi buta harapanmu, dan keburukan lainnya.

Aku niatkan surat ini untuk kebaikan bersama, aku dan kamu, keluargaku dan keluargamu.Sebenarnya tidak ingin kau tahu jika aku menuliskan hal ini, hanya saja ternyata kau diam-diam sudah membaca semua tulisanku ini. Ada rasa bahagia, karena kau membaca banyak tulisan nyataku ini, ada rasa tak enak hati, karena bahasa tulisanku sedikit kasar dan menyayat hati.

Apa katamu sayang, tentang tulisanku, harapannya kita akan saling memperbaiki, satu sama lainnya.

Malam ini sungguh, pikiran entah kemana, dan tak tahu juga mesti mengawali dari mana untuk surat ini.

Sayang... banyak yang ingin ku sampaikan, jika aku tak suka jika ada orang yang membeda-bedakan kamu, membandingkan  kamu dengan orang lain, menilai buruk tentang kamu, aku tak ingin sayang..

terlebih hanya karena alasan materi. Bukan menilai banyak nya harta yang kau punya, menilai banyaknya pekerjaan yang kau ambil, atau banyaknya status yang kau punya, bukan itu..

Terkadang kalimat-kalimat yang ku dengar buruk tentang kamu sangat membuatku benci, yakni ketika mereka menganggap kau tak memberiku apapun, ...ahhhh..terlalu...
Sayang, andai kau tahu, darahku langsung naik, ketika kalimat-kalimat itu muncul... tenang saja sayang, ku bela kau dengan sekuat tenaga, memberikan argumen penguat, jika kamu sudah banyak memberikan apa yang mereka tak bisa lihat, iya hanya aku yang tahu..

Tapi terkadang rasa ngga terima itu muncul begitu saja, aku tak tahu siapa yang musti disalahkan, jika kenyataannya sudah seperti itu. Kebiasaan, yaah.. kebiasaan menjadi salah satu faktor mereka membicarakanmu seperti itu. 

Maafkanlah orang-orang itu kasih.. cara pandangnya menjadi faktor utama nya. Dimana kebiasaan memberi, sangat mereka harakan, begitu juga dengan kebiasaan diberi, harus sebanding, begitulah kesimpulan yang ku ambil.

Yang pasti, dari dalam lubuk hati yang terdalam, tidak ada sedikitpun rasa ingin menuntutmu memberiku lebih... 

Aku akui... perbedaan itu pasti ada, dimanapun, kapanpun, baik buruknya pasti ada pula... 

Ah... apapun nanti, jangan diambil pusing, lupakanlah tulisan ini.. berbuatlah baik seperti biasanya... aku tetap mencintai dan menyayangimu...
Berusaha memperbaiki hubungan ini dengan menghilangkan ego yang besar, yang masih saja melekat di diri ini..

 kapanpun kau membaca surat ini sayang, bersikaplah normal, jangan menjauhiku sayang... jangan membahas pula tulisan ini...
Salam hangat untukmu kekasihku..]#abaikan!!!!!!
Read More